AT COST versus ONGKOS


Di tahun-tahun lalu, seorang pegawai akan senang jika diberi tugas keluar kantor atau melakukan perjalanan dinas, karena dapat dipastikan setelah selesai menjalankan tugas, ada kelebihan biaya yang bisa dibawa pulang dan sah menjadi miliknya. Sisa biaya yang telah dipergunakan tidak perlu dikembalikan. Dana diberikan sesuai pagu. Misalnya si A ditugaskan ke luar daerah dan untuk ke daerah tersebut telah ditetapkan biaya sebesar sekian, maka lebih atau kurang, kantor tidak akan peduli. Sudah ada daftar biaya untuk melakukan perjalanan ke tiap-tiap tempat, lengkap dengan biaya transport (tiket) antar kota maupun dalam kota, biaya nginap di hotel, uang harian, uang makan, dan lain sebagainya. Tidak ada tuntutan untuk mengembalikan biaya yang telah diterima. Tidak pula bisa menuntut jika biaya ternyata kurang. Biaya perjalanan diberikan sesuai pagu untuk masing-masing tempat tujuan. Tidak heran jika perjalanan dinas dijadikan ajang mencari rejeki tambahan dari penghasilan bulanan yang selalu dirasakan kurang. Bahkan ada yang main titip. Jika ada kawan yang melakukan perjalanan dinas ke suatu tempat, sudah dapat dipastikan ada beberapa teman yang menitipkan  Surat Tugas dan Surat Perintah Perjalanan Dinas kepada kawan tersebut. Jadilah ia melakukan perjalanan dinas di tempat. Surat tugasnya berjalan namun orangnya tetap di kantor atau malah tidur di rumah. Tinggal tunggu kawan datang dan kemudian tagih uang perjalanan dinasnya ke Bendahara. Lumayan, tak perlu capek jalan-jalan, duit tak keluar sepeserpun, tapi malah dapat duit bersih atau paling-paling kasi komisi sama teman yang telah dinas luar tersebut.
Sekarang, segala kenikmatan itu sudah berakhir. Pemerintah sudah membuat antisipasi. Sepandai pandai tupai melompat, akhirnya …… melompat juga, tapi jatuh masuk perangkap. Pegawai tidak bisa lagi mengakali perjalanan dinas. Untuk bukti perjalanan dinas tidak cukup hanya membuat kwitansi dan laporan perjalanan. Namun ditambah lagi tiket bis, taxi, atau tiket pesawat. Untuk nginap harus ada bill hotel. Dan untuk yang biayanya tidak ada bukti seperti itu, maka diganti dengan surat pernyataan riil yang menyatakan bahwa biaya yang dikeluarkan adalah benar sebesar biaya yang ditagih serta si petugas bersedia mengembalikan jika terbukti biaya riilnya lebih kecil. Itulah yang sekarang disebut dengan AT COST. Artinya, biaya dibayar sesuai pengeluaran yang dapat dibuktikan.
Jadi, jangan harap akan ada kelebihan dari uang perjalanan dinas. Jangan harap akan ada uang buat beli oleh-oleh. Mau beli oleh-oleh, pakai uang sendiri, bukan uang pemerintah. Begitulah !
Bagi pegawai yang berangkat dari kota Kabupaten ke luar daerah misal Propinsi atau Pusat, penerapan aturan itu tentunya sangat tepat. Betapa banyak biaya terbuang percuma lantaran perjalanan dinas di tempat. Berapa banyak uang negara yang bisa dihemat.
Namun bagaimana jika seorang pegawai Puskesmas di luar kota kabupaten diundang ikut rapat di propinsi ?
Berikut ini pengalaman teman saya dari sebuah Puskesmas di Kabupaten yang terkenal sulitnya transportasi dari Kecamatan ke kota Kabupaten karena memerlukan waktu berhari-hari dengan biaya yang besar.
Beberapa waktu lalu, teman saya dari sebuah Puskesmas di sebuah Kabupaten diundang ikut rapat di Propinsi. Biaya dari Puskesmas ke Kabupaten sebesar enam ratus ribu pergi pulang, Menginap di Kabupaten satu malam dengan biaya seratus lima puluh ribu rupiah termasuk makan dan minum. Kemudian dari kabupaten ke propinsi dengan pesawat satu juta pergi pulang. Sampai di propinsi tidak bisa langsung cek ini ke hotel tempat acara karena acara baru dimulai besok pagi. Jadi, harus menginap lagi di hotel lain satu malam dengan biaya dua ratus lima puluh ribu termasuk makan dan minum. Total biaya dua juta seratus lima puluh ribu rupiah.
Singkat cerita, selesailah rapat yang berlangsung selama dua hari dan si petugas pun mendapat penggantian biaya transport plus uang saku. Dalam hati, terbayang akan menerima uang yang cukup bahkan ada lebihnya pula.
Sudah senyam-senyum si petugas.
Namun ketika amplop dibuka, isinya cuma satu juta rupiah. Jangankan ada lebih, kembali modal saja tidak.
Inikah namanya AT COST ?  Dia sudah keluar ongkos dua juta seratus lima puluh ribu rupiah untuk perjalanan dari Puskesmas ke Propinsi pergi pulang, tapi panitia rapat cuma ngasi biaya perjalanan dari Kabupaten ke Propinsi sesuai surat tugas yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan darimana petugas berasal.  Bukan dihitung dari Puskesmas ke Propinsi. Untuk Puskesmas ke Kabupaten pergi pulang, menjadi tanggungan si petugas sendiri.
Nasiiiiib, sudah jauh bertugas di pedalaman, masih dicurangi lagi. Berbeda sekali dari apa yang disampaikan oleh narasumber pusat yang mengatakan, “Biarpun biaya ojeknya dua juta, pasti dibayar. Yang penting bisa dipertanggungjawabkan sesuai kenyataan”
Tapi kenyataannya apa ?
AT COST malah keluar ONGKOS !
Dan pulang dengan TANGKOS alias tangan kosong !

One thought on “AT COST versus ONGKOS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s