NAIK KERETA


Suatu ketika ada 4 orang naik kereta dan berdiri berekatan satu sama lain. Mereka adalah, seorang gadis sangat cantik dan memikat bersama neneknya yang sudah peot, serta seorang komandan tentara beserta ajudannya.  Si gadis dan nenek, beserta komandan dan ajudan, berdiri saling berhadap-hadapan, sehingga sang komandan dan ajudannya dengan gampang mencuri kesempatan untuk menikmati pemandangan iindah di depan matanya. Sesekali juga menelusi keindahan sang gadis dari ujung kaki hingga rambutnya.
Suatu ketika, kereta itu memasuki sebuah terowongan yang gelap. Suatu kebetulan juga lampu kabin pun mati, sehingga suasana dalam kereta betul-betul gelap, bahkan telapak tangan sendiri pun tidak kelihatan. Belum berapa lama memasuki kegelapan, tiba-tiba terdengar bunyi “cuuuuup……” seperti bunyi kecupan pada pipi atau bibir lantas diikuti bunyi “plaaak…..” yang cukup keras. Sepertinya seseorang telah ditempeleng. Setelah kereta itu keluar dan keadaan terang kembali, namun suasana di dalam kabin itu ternyata masih saja sunyi senyap. Masing-masing orang  merasa kaku dan masing-masing berkata dalam hatinya.
Si Nenek berkata dalam hatinya : “Dasar ajudan, mentang-mentang militer mencium cucu saya tetapi kenapa  beraninya  mencium kalau gelap ?  Tetapi……… memang cucu saya sangat cantik seperti ketika saya muda dulu”
Si Gadis juga berkata dalam hatinya  : “Dasar laki-laki, nenek sudah peot dicium juga. Hahaha….  Pasti salah sasaran tuh. Rasain kemplangan tangan nenek gua, keras juga kan ?”
Sementara itu, Sang Komandan sambil mengelus-elus pipinya yang memerah kena tampar berpikir : “Kurang ajar ni ajudan, dia yang mencium gadis itu, saya yang kena tampar”
Di sisi lain, sang Ajudan sambil menahan senyum, berkata dalam hati : “Kapan ya ada terowongan gelap lagi supaya bisa kutampar  nih Komandan yang  galak ?”. Ia mengusap-usap punggung telapak tangannya yang masih menyisakan sedikit air liurnya saat tadi dalam kegelapan ia mengecup tangannya sendiri.

Apa makna ceritanya ?

Cerita tadi mengingatkan kita untuk tidak buru-buru bertindak hanya karena prasangka buruk. Seringkali terhadap sesuatu yang kita dengar, kita mengembangkan pikiran dan analisa kita padahal kita tidak melihat dengan mata sendiri kejadiannya. Kita begitu percaya pada cerita yang mungkin saja merupakan sebuah pengembangan dari kejadi yang sepele.  Contoh : penangkapan 3 orang pegawai KKP oleh tentara Malaysia di mana tidak jelas posisinya, apakah di wilayah  Indonesia atau Malaysia. Ini pengakuan dari pegawai KKP itu sendiri yang menyatakan bahwa pada saat itu GPS mereka mati. Nah… gimana mau katakan bahwa mereka ada dalam wilayah Indonesia ?  Sekelompok masyarakat merasa terhina, lantas demo kelewatan, padahal TKP belum diperiksa, apakah benar  wilayah NKRI atau bukan ?
Masalah bisa bertambah besar. Belum tentu pikiran dan analisa kita adalah sebuah kebenaran. Jangan-jangan hanya sebuah halusinasi.
Jadi, tahan emosi dan bertindaklah secara wajar berdasarkan fakta dan kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s