ASI


Menyusui

Banyak ibu yang enggan menyusui bayinya dengan berbagai alasan yang terkadang tidak masuk akal seperti ukuran payudara yang terlalu kecil, takut ASI tidak cukup, habis operasi pembesaran payudara yang tak memungkinkan ibu memberi bayinya ASI, bahkan takut bentuk payu daranya berubah hingga tidak menarik lagi.

Benarkah?
Ada baiknya kita belajar dari Dr. Jack Newman, MD yang menulis mengenai mitos-mitos menyusui yang terangkum dalam buku Breastfeeding Myths.
Simak pernyataan di bawah ini    :

1. Seorang ibu yang putingnya sedang berdarah akibat luka tidak boleh menyusui.
Salah. Walaupun darah dapat membuat bayi lebih banyak gumoh/muntah, dan darah mungkin akan terlihat di feses-nya, tetapi hal ini bukanlah alasan untuk seorang ibu berhenti menyusui. Puting yang terluka sama saja dengan puting yang tidak terluka, yang membedakan adalah rasa sakit yang dirasakan sang ibu. Sebenarnya relatif mudah untuk mengobati puting yang sakit dan terluka. Segera cari pertolongan. Ada kalanya ibu merasakan sakit pada putingnya yang terluka, walau tidak selalu rasa sakit itu disebabkan oleh lukanya. Hal ini biasa terjadi pada beberapa hari setelah kelahiran. Apabila hal ini terjadi, jangan berhenti menyusui. Apabila luka belum sembuh juga, Ibu sebaiknya segera ke dokter untuk mencari tahu penyebab terjadinya luka pada puting, sementara itu ibu tetap menyusui.

2. Perempuan yang telah melakukan operasi pembesaran payudara tidak dapat menyusui.
Salah. Banyak ibu yang melakukan operasi pembesaran payudara dan tetap menyusui. Tidak ada bukti nyata bahwa menyusui dengan payudara dengan silikon dapat membahayakan bayi. Operasi pembesaran payudara biasanya dilakukan lewat areola. Walau begitu, ibu yang pernah menjalankan operasi ini biasanya memiliki produksi ASI yang cenderung sedikit, sama dengan ibu yang menjalankan operasi apapun yang melalui areola.

3. Perempuan yang telah melakukan operasi pengecilan payudara tidak dapat menyusui.
Salah. Pengecilan payudara memang berpengaruh terhadap kapasitas produksi ASI, tetapi karena banyak ibu yang memproduksi jauh lebih banyak ASI yang dibutuhkan, banyak ibu yang menjalankan produksi pengecilan payudara tetap dapat menyusui secara eksklusif. Walau begitu, apabila produksi ASI tampaknya tidak mencukupi, ibu tetap dapat menyusui dengan alat bantu khusus (sehingga bayi tidak bingung puting antara puting ibunya dengan dot), yaitu alat supplementary nursing.

4. Bayi-bayi prematur perlu belajar untuk minum susu dari botol sebelum mereka mulai menyusu.
Salah. Justru bayi prematur akan berkurang stresnya apabila mendapatkan ASI. Seorang bayi sekecil 1200 gram (dan bahkan lebih kecil dari itu) dapat menyusu segera setelah kondisinya stabil, walau ia mungkin belum dapat menyusu secara langsung dalam beberapa minggu pertama. Walau begitu, ia akan terus belajar, dan lewat dekapan ibunya, bayi dan sang ibu akan merasa lebih nyaman. Sebenarnya, berat badan bayi dan usia kehamilan pada saat melahirkan tidaklah lebih berpengaruh dibanding kesiapan bayi untuk mengisap, yang ditunjukkan oleh gerakan mengisap yang dibuatnya. Kesimpulannya, tidak ada lagi alasan untuk memberikan susu botol pada bayi prematur. Apabila tambahan ASI memang dibutuhkan, ada cara lain yang dapat dilakukan daripada memberikan dot dan botol susu pada sang bayi.

5. Bayi-bayi yang menderita celah bibir tidak dapat menyusu.
Salah. Banyak juga yang dapat menyusu dengan baik. Bayi yang menderita celah biasanya dapat menyusu dengan baik. Walau demikian, lain halnya dengan bayi yang menderita kelainan celah langit-langit (palato), karena kelainan ini membuat bayi tidak mungkin dapat menyusu. Apabila bayi tidak dapat memulai menyusui dengan benar, maka akan sangat sulit bagi bayi untuk seterusnya menyusu dengan lancar. Kemampuan bayi-bayi untuk menyusu tidak selalu bergantung pada tingkat kegawatan celahnya. Menyusui haruslah dicoba sedini mungkin, sesering mungkin, dengan menggunakan cara-cara menyusu yang tepat. Apabila bayi langsung diberikan botol, maka kemampuan bayi untuk menyusu secara langsung dapat berkurang. Apabila bayi belum dapat menyusu secara benar, coba suapi dengan sendok atau cangkir kecil.

6. Perempuan dengan ukuran payudara yang kecil menghasilkan lebih sedikit ASI dibandingkan dengan mereka yang memiliki ukuran payudara lebih besar.
Tidak ada hubungannya. Produksi ASI tidak ditentukan besar-kecilnya ukuran payudara seseorang.

7. Menyusui tidak memberikan perlindungan terhadap risiko kehamilan.
Salah. Memang risiko kehamilan tetap ada, tetapi hampir semua metode KB manapun mempunyai risiko kehamilan. Sebenarnya menyusui adalah metode KB alami yang bekerja cukup baik. Hampir sama baiknya dengan pil KB, dengan syarat, ibu menyusui secara eksklusif, bayinya berusia kurang dari 6 bulan, dan ibu belum mendapatkan menstruasi lagi. Setelah lewat 6 bulan, menyusui juga dapat dijadikan metode KB alami, walau perlindungannya tidak sebesar pada saat bayi berusia kurang dari 6 bulan. Secara rata-rata, menyusui hingga 2 tahun dapat membuat jarak kelahiran yang cukup, walau ibu tidak ber-KB sekalipun.

8. Ibu yang sedang menyusui tidak bisa mengonsumsi pil KB.
Salah. Hormon yang terdapat pada pil KB memang akan ada dalam ASI, tetapi tidaklah membahayakan. Walau begitu, hormon estrogen yang terdapat dalam pil KB dapat mengurangi produksi ASI. Apabila ibu mengalami hal ini, coba berhenti minum pil KB, maka produksi ASI ibu akan kembali normal. Jika memungkinkan, sebaiknya ibu tidak minum pil KB apabila masih menyusui, kecuali apabila bayinya sudah mulai makan Makanan Pendamping ASI (MPASI), yaitu pada saat bayi berusia di atas 6 bulan. Apabila ibu ingin mengonsumsi pil KB, sebaiknya cari pil KB yang hanya mengandung hormon progestin (tanpa estrogen) yang tidak akan mengurangi produksi ASI.

9. Bayi-bayi yang mendapatkan ASI memerlukan tambahan jenis susu lainnya setelah berusia 6 bulan.
Salah. ASI memberikan segalanya yang dibutuhkan bayi, bahkan lebih dari itu. Bayi berusia 6 bulan ke atas sudah harus mendapatkan MPASI semata-mata agar mereka dapat mempelajari cara makan dan agar mereka mendapatkan sumber zat besi yang lain selain dari ASI, karena bayi usia 7-9 bulan tidak dapat mencukupi kebutuhan zat besinya hanya dari ASI saja. Kesimpulannya, susu sapi atau susu formula tidaklah diperlukan. Selain itu, kebanyakan bayi di atas usia 6 bulan yang belum pernah minum susu formula tidak akan menyukainya karena rasanya.

10. Ibu dengan kondisi puting datar atau putting masuk/tidak keluar tidak dapat menyusui bayinya.
Salah. Bayi tidak menyusu pada puting, tetap mereka menyusu pada payudara. Walaupun tampaknya lebih mudah bagi bayi untuk melekatkan mulutnya pada payudara ibu apabila kondisi putingnya menonjol, tetapi hal tersebut bukan merupakan suatu keharusan. Apabila kegiatan menyusui dimulai secara benar, maka biasanya hal tersebut dapat mencegah timbulnya berbagai permasalahan seputar menyusui, dan ibu-ibu dengan aneka bentuk puting tetap dapat menyusui secara baik. Apabila pada awalnya bayi menolak untuk menyusu, maka dengan bantuan yang tepat, bayi lambat laun akan mau untuk menyusu pada payudara ibunya. Bentuk dan tampilan payudara seorang ibu juga akan cenderung untuk berubah dalam minggu-minggu setelah proses persalinan, dan selama ibu tersebut tetap mempertahankan pasokan ASI-nya, maka biasanya bayi akan berhasil melakukan pelekatan dengan baik pada minggu ke-8, tetapi apabila ibu mendapatkan bantuan yang tepat, pelekatan yang baik mungkin terjadi sebelum minggu ke-8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s