Berita Negatif Caleg Gagal Munculkan Stigma Gangguan Jiwa di Masyarakat


Pemilu yang dilaksanakan 9 April 2009, telah selesai. Namun opini tentang Caleg dan sakit jiwa, khususnya berita telah siapnya beberapa rumah sakit jiwa untuk menampung para Caleg yang gagal, mengundang keprihatinan para ahli kedokteran jiwa. Itu sebabnya, tanggal 17 April 2009 Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang DKI Jakarta menggelar Diskusi Publik “ Fenomena Caleg dan Stigma Gangguan Jiwa “ di Auditorium RS Soeharto Heerdjan Jakarta.

Diskusi yang diikuti sekitar 70 peserta dari kalangan mahasiswa fakultas kedokteran, media massa dan pemerhati masalah kesehatan jiwa menghadirkan pembicara Prof. dr. Dadang Hawari, Sp.KJ dengan materi “Masalah Gangguan Jiwa”, Prof. dr. Agus Purwadianto, SH, dari Majelis Kode Etik Kedokteran IDI, dengan materi “ Stigma dan Aspek HAM Individu dengan Gangguan Jiwa dan dr. H.M. Aminullah, Sp.KJ, Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Depkes dengan topik “ Kebijakan Pelayanan Kesehatan Jiwa di Indonesia “. Sedianya dalam diskusi itu juga diundang sebagai pembicara dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ (Caleg Partai Demokrat) dan dr. Rusdi Effendi, Sp. KJ (Caleg Partai Matahari Bangsa), namun keduanya tidak bisa hadir.
dr. Prianto Djatmiko, Sp.KJ, Ketua PDSKJI DKI Jakarta menyatakan, dari sudut pandang kesehatan jiwa, sorotan media massa Caleg yang gagal dikaitkan dengan sakit jiwa telah terjadi distorsi. Hal ini dapat memunculkan stigma terhadap individu yang menderita gangguan jiwa. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa individu yang sakit jiwa adalah aib dan memalukan. Stigma ini sangat merugikan bagi individu dan institusi yang berwenang di dunia kesehatan jiwa. Karena itu tidak jarang hak asasi individu dengan gangguan jiwa juga terlanggar akibat stigma dan sikap diskriminatif itu.
dr. H. M. Aminullah, SpKJ, MM, Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Depkes dalam makalahnya, mengakui media massa sangat berpengaruh terhadap sikap masyarakat atau opini tentang berbagai masalah kesehatan jiwa. Banyak liputan media yang disampaikan justru merupakan hal negatif dan menambah memperkuat stigma terhadap masalah kesehatan jiwa. Dia mencontohkan berita media massa dengan judul “ Caleg Gagal Jadi Gila atau gangguan jiwa Lainnya. Rumah Sakit Jiwa telah menyediakan kamar eksklusif untuk mereka “.
Ditambahkan, bahwa media massa sangat berpengaruh terhadap pengetahuan, pemikiran, dan pendapat tentang berbagai masalah psikososial di masyarakat dalam hal ini gangguan jiwa. Peranan media massa ini sangat besar dalam mempublikasikan seorang figur, memprediksi, mempromosikan caleg-caleg tertentu yang terkadang tidak sesuai dengan realitanya, jelas dr. Aminullah.
Liputan media yang cenderung menampilkan hal-hal negatif akan memperkuat stigma terhadap permasalahan kesehatan jiwa. Caleg yang gagal menjadi terganggu jiwanya, yang mencerminkan bahwa seakan-akan orang Indonesia ini sangat rentan terhadap gangguan jiwa. Depkes mengharapkan bila terdapat masalah-masalah tentang peliputan mengenai gangguan kejiwaan sebelumnya harus dikonfirmasi kepada rumah sakit atau dokter yang merawat pasien gangguan jiwa tersebut, ungkap dr. Aminnulah.
Dr. Aminullah mencontohkan berita seorang mahasiswa dari Virginia Tech University tanggal 6 April 2007 menembak 33 orang mahasiswa di kampusnya termasuk dirinya, dan salah satunya mahasiswa Indonesia. Ini menunjukkan adanya konsepsi yang salah bahwa gangguan jiwa selalu berhubungan dengan “kekerasan”. Padahal kenyataannya sebagian besar yang mengalami gangguan jiwa bukanlah orang yang bengis atau yang mudah melakukan kekerasan, ujarnya.
Prof. dr. Dadang Hawari, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menambahkan bahwa seseorang mengalami gangguan jiwa apabila orang itu tidak bisa beradaptasi dengan lingkungannya sehari-hari baik di rumah, di kantor, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.
“Berat ringannya gangguan jiwa dapat dibedakan menjadi stres, cemas dan depresi. Tidak semua gangguan jiwa harus dirawat di rumah sakit, ujarnya Prof. Dadang Hawari.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

3 thoughts on “Berita Negatif Caleg Gagal Munculkan Stigma Gangguan Jiwa di Masyarakat

  1. Yang namanya stigma gangguan jiwa di masyarakat Indo sangat sulit dihapus tapi saya senang baca berita seperti ini seenggaknya masyarakat bisa dapet info yang lebih betul.

  2. hehe…
    wah, penomena yang sudah bisa ditebak ya…
    mungkin para caleg itu harusnya sudah melalui pemeriksaan kesehatan jiwa sebelum maju. Kalau perlu menandatangani surat pernyataan tidak akan sakit jiwa kalau kalah :))
    Tapi bicara soal stigma, memang itu kenyataan yang masih terjadi di masyarakat kita, bahwa kesehatan jiwa seseorang sangat berhubungan dengan status dan harkat yang disandang oleh orang dan keluarga yang bersangkutan.. wajar saja saya kira, karena selama ini memang persepsi nya gangguan kesehatan jiwa=gila…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s