ISPA dan PNEMONIA


PENGERTIAN DAN KLASIPIKASI

Sejak dilaksanakan Pemberantasan Penyakit ISPA untuk penanggulangan pneumonia pada balita tahun 1990 sering timbul kerancuan dan kesimpangsiuran pemahaman antara ISPA dan Pneumonia. Untuk mencegah berlanjutnya kerancuan pemahaman tersebut maka dalam tulisan ini diupayakan untuk menjelaskan tentang ISPA dan Pneumonia secara rinci.

A. Pengertian Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan Pneumonia

Istilah ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut dan mulai diperkenalkan pada tahun 1984 setelah dibahas dalam lokakarya Nasional ISPA di Cipanas, istilah ini merupakan padanan istilah bahasa inggris Acute Respiratory infection (ARI). Dalam Lokakarya Nasioanal ISPA tersebut terdapat dua pendapat berbeda, pendapat pertama memilih istilah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan pendapat kedua memilih istilah ISNA (Infeksi Saluran Napas Akut) Pada akhir Lokakarya diputuskan untuk memilih istilah ISPA dan sampai sekarang istilah ini yang digunakan.

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Infeksi Saluran Pernapasan Akut adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

2. Pneumonia

Pnoumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paruparu (alveoli). Terjadinya Pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut bronkopneumonia. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA semua bentuk Pneomonia (baik Pneumonia maupun bronkopneumonia) disebut “Pneumonia” saja.

B. Klasifikasi Penyakit ISPA

a. Klasifikasi betuk dan kesukaran bernapas

Kriteria atau entry untuk menggunakan pola tatalaksana penderita ISPA adalah : balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas. Pola tatalaksana penderita ini terdiri dari 4 bagian yaitu :

  • Pemeriksaan
  • Penentuan ada tidaknya tanda bahaya
  • Penentuan klasifikasi penyakit
  • Pengobatan dan tindakan

Dalam penentuan klasifikasi dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok untuk umur 2 bulan -<5 tahun dan kelompok untuk umur < 2 bulan.

  1. Untuk kelompok umur 2 bulan -<5 tahun klasifikasi dibagi atas : Pneumonia berat, Pneumonia dan bukan Pneumonia.
  2. Untuk kelompok umur <2 bulan klasifikasi dibagi atas : Pneumonia berat dan bukan Pneumonia.

Dalam pendekatan manajemen terpadu balita sakit (MTBS) klasifikasi pada kelompok umur <2 bulan adalah infeksi yang serius dan infeksi bakteri lokal. Klasifikasi Pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (Chest indrawing) pada anak usia 2 bulan -< 5 tahun. Untuk kelompok umur < 2 bulan diagnosis Pneumonia berat ditandai dengan adanya napas cepat (fast breathing), yaitu kuat pada dinding dada bagian bawah kedalam (severe chest indrawing)

Klasifikasi Pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai adanya napas sesuai umur, batas napas cepat (fast brething) pada anak usia 2 bulan -<1 tahun adalah 50 kali per menit dan 40 kali per menit untuk anak usia 1-<5 tahun.

Klasifikasi bukan-Pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukan adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam.

Dengan demikian klasifikasi bukan Pneumonia mencakup penyakit-penyakit ISPA lain diluar Pneumonia seperti batuk pilek bukan Pneumonia (Common cold, pharyngitis, tonsilitis, otitis).Pada tatalaksana ISPA hanya dimaksudkan untuk tatalaksana penderia Pneumonia berat, Pneumonia dan bartuk bukan Pneumonia.

Sedangkan penyakit ISPA lain seperti pharingitis, tonsilitis dan otitis belum dicakup program.

b. Etiologi

1) Etiologi ISPA

Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptokokus. Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium. Virus Penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.

2) Etiologi Pneumonia

Etiologi Pneumonia pada balita sukar untuk ditetapkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab Pneumonia. Hanya biakan dari aspirat paru serta pemeriksaan spesimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu penetapan etiologi Pneumonia.

Meskipun pemeriksaan spesimen aspirat paru merupakan cara yang sensitif untuk mendapatkan dan menentukan bakteri penyebab Pneumonia pada balita akan tetapi fungsi paru merupakan prosedur yang berbahaya dan bertentangan dengan etika, terutama jika hanya dimaksudkan untuk penelitian. Oleh karena alasan tersebut diatas maka penetapan etiologi Pneumonia di Indonesia masih didasarkan pada hasil penelitian di luar Indonesia. Menurut publikasi WHO, penelitian di berbagai negara menunjukan bahwa di negara berkembang Streptokokus pneumonia dan Hemofilus influenza merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada dua pertiga dari hasil isolasi, yaitu 73,9 % aspirat paru dan 69,1% hasil isolasi dari spesimen darah. Sedangkan di negara maju, dewasa ini Pneumonia pada anak umumnya isebabkan oleh virus.

c. Faktor Resiko Pneumonia

Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai negara termasuk Indonesia dan berbagai publikasi ilmiah, dilaporkan berbagai faktor risiko baik yang meningkatkan insiden orbiditas) maupun kematian (mortalitas) akibat Pneumonia :

a) Faktor resiko yang meningkatkan insiden Pneumonia :

  • Umur < 2 bulan
  • Laki-laki
  • Gizi kurang
  • Barat badan lahir rendah
  • Tidak mendapat ASI memadai
  • Polusi udara
  • Kepadatan tempat tinggal
  • Imunisasi yang tidak memadai
  • Membedung anak (selimut berlebihan)
  • Defisiensi Vitamin A
  • Pembarian makanan tambahan terlalu dini.

b) Faktor risiko yang meningkatkan angka kematian Pneumonia

  • Umur < 2 bulan
  • Tingkat sosio ekonomi rendah
  • Kurang gizi
  • Berat badan lahir rendah
  • Tingkat pendidikan ibu yang rendah
  • Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah
  • Kepadatan tempat tinggal
  • Imunisasi yang tidak memadai
  • Menderita penyakit kronis
  • Aspek kepercayaan setempat dalam praktek pencarian pengobatan yang salah.

Dicomot dari : SK Menkes No. 1537.A – MENKES – SK – II – 2002

One thought on “ISPA dan PNEMONIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s