Dr. Enita Mayasari : Mengabdi Atas Panggilan Hati


enita mayasari, enita borneo, sajingan besarTulisan berikut kami petik dari majalah Mediakom Edisi April 2010, bercerita tentang suka duka seorang dokter yang bertugas di daerah terpencil, daerah perbatasan dengan Malaysia, dimana Puskesmas tempatnya bertugas hanya beberapa menit saja dari perbatasan. Bahkan listriknyapun dipasok dari negara tetangga yang selalu membuat ulah tersebut.Mudah-mudahan, tulisan yang kami copast dari majalah tersebut dapat memotivasi dokter-dokter muda untuk sudi mengabdikan ilmunya di daerah terpencil yang jauh dari segala kemudahan.Bagi dr. Enita, bekerja merupakan pengabdian. Pengabdian yang terbaik atas dasar panggilan hati. Enita terpanggil untuk melayani masyarakat terpencil, terasing nun jauh di sana. Terpencil dari sisi geografis, terasing dari hirukpikuk manusia pada umumnya. Ia menjalani pengabdian dalam sunyi dan sepi. Tak ada komunikasi dan publikasi, apalagi sorotan televisi. Mendaki bukit dan menelusuri lembah, menerobos hutan belantara mengunjungi pasien. Memberi pertolongan, menyelamatkan nyawa dari ancaman bahaya kesakitan dan kematian.

Sejak awal tahun 2007, Enita mengawali pengabdian di Puskesmas Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Wilayah Sajingan Besar berbatasan dengan Biawak, Malaysia. Medannya perbukitan dan sebagian besar masih berupa hutan belantara. Untuk sampai ke Sajingan besar harus menempuh perjalanan darat kurang lebih 8 jam dari Pontianak. Kondisi jalannya dari Sambas – Sajingan rusak berat.  Terbuat dari tanah merah yang dikeraskan, bercampur sedikit batu koral. Banyak lubang di sana-sini. Melewati puluhan jembatan kayu yang rusak. Perjalanan akan lebih berat lagi karena becek dan licin bila turun hujan. Bila musim kemarau jalan berdebu sangat pekat, sehingga jarak pandang kurang dari 5 meter.

Awal bertugas di Puskesmas Sajingan Besar, ada 2 akses jalan. Pertama melalui jalan darat dengan menelusuri  pegunungan yang terjal dan mendaki yang dikelilingi jurang dan hanya dapat dilewati pada saat musim kemarau. Alternatif kedua melalui jalur air sungai Enau, menggunakan kapal kecil (tongkang/klotok) dengan jarak lumayan jauh karena harus menelusuri pinggiran sungai lebih kurang 6 jam. Setelah sampai masih harus berjalan kaki menelusuri jalan setapak berlumpur dengan pohon besar disisi kiri dan kanan jalan. Sungguh cukup berat perjalanan yang harus ditempuh, apalagi bagi seorang perempuan seperti Enita. Kalau bukan tekad yang kuat untuk pengabdian, pastilah akan mundur teratur.

Kesulitan demi kesulitan

Di tempat tugas Enita sering menemukan kasus yang lumayan sulit. Salah satunya adalah kasus persalinan. Ia harus menyelamatkan dua nyawa sekaligus yaitu ibu dan anak. Kasus berupa persalinan pre-eklamsi, solution placenta, retensio plasenta dan partus tak maju. Pada kasus tertentu, biasanya berusaha menangani sendiri sebisa mungkin, karena jika dirujuk dengan kondisi jalan yang rusak parah dan kondisi ibu yang lemah, justru hanya akan memperburuk keadaan.
Pasien yang akan melahirkan, jarang mau melahirkan di Puskesmas, jadi Enita lebih sering dipanggil ke rumah mereka dengan tempat seadaanya. Terkadang hanya selembar tikar kulit kayu di lantai dan lampu yang remang-remang. Pernah hanya menggunakan sebuah lilin. Memang pada saat itu, listrik masih jarang dan hanya dinikmati oleh masyarakat ekonomi atas. Jika ada persalinan yang agak sulit, Ernita sering was-was karena kondisi tempat dan alat seadanya.

Dalam menolong persalinan sering didampingi oleh dukun beranak (dukun bayi/kampung). Dalam situasi yang tepat, Enita memberi masukan kepada dukun tentang persalinan yang baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu kedokteran. Hal ini dilakukan agar para dukun tidak merasa tersinggung.
Di daerah Sajingan, secara umum dalam menangani persalinan, dokter harus didampingi dukun bayi  dengan melakukan acara tradisi ritual tertentu. Mereka melakukan ini untuk menyambut kelahiran si jabang bayi sesuai adat istiadat mereka. Jadi, dokter harus memahami apa yang dilakukan oleh dukun. Dokter dan dukun berkolaborasi untuk menyelamatkan ibu dan bayi.
Selain berobat ke tenaga medis.kesehatan, masyarakat sering berobat ke dukun atau paranormal, walau hanya masuk angin biasa.  Hal ini disebabkan karena kepercayaan mereka terhadap pengobatan paranormal lebih tinggi daripada ke tenaga medis/kesehatan. Masyarakat menganggap pengobatan paranormal lebih mampu dan lebih mahir dibandingkan tenaga medis/kesehatan.
Ada satu yang membuat Enita terkadang kesal terhadap paranormal. Jika mereka tidak dapat menangani pasien, maka mereka merujuk ke palayanan kesehatan, setelah kondisi pasien sudah parah dan biasanya hampir tidak tertolong. Enita sering  dipanggil untuk menangani penyakit aneh, misalnya kesurupan. Ketika datang sudah ada dukun atau paranormal lengkap dengan mantra/jampi-jampi dan aroma mistis yang menusuk hidung, awalnya terasa serem, katanya.
Setelah beberapa kali akhirnya Enita memberanikan diri bekerjasama dengan dukun untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Memang sedikit aneh, tapi berusaha santai mengobati penyakit pasien sesuai dengan profesi kedokteran. Bahkan pernah ada yang kesurupan kemudian dibacakan ayat-ayat Al-qur’an dengan izin Allah sembuh. “Tapi saya tidak ikut-ikutan komat-kamit”,  selorohnya.
Pernah ada kesulitan dalam persalinan. Enita memutuskan untuk membawa ke negara tetangga Malaysia karena lebih mudah dibandingkan harus dirujuk ke Puskesmas ataupun ibukota Kabupaten. Sebab medan yang dihadapi berat, sulit dan sangat jauh. Hal ini disebabkan kondisi jalan yang tidak memungkinkan dan berisiko jika dilewati. Apalagi membawa pasien dengan kondisi darurat.
Sedangkan jika pasien dibawa ke negara tetangga, hanya memerlukan wakti 20 menit dengan menggunakan kendaraan. Tapi saat itu kendaraan sulit dicari, sehingga pasien hanya dibawa menggunakan tandu. Setelah sampai di klinik desa Biawak (daerah bagian Malaysia), hari sudah tengah malam. Pintu tertutup dan diminta pulang  padahal sedang membawa pasein kritis. Akhirnya Enita memperkenalkan diri sebagai dokter dari Indonesia yang bertugas di Sajingan Besar, baru dipersilakan masuk.
Sampai di sini kesulitan belum berakhir. Mereka meminta uang muka tunai di muka, Tapi permintaan itu ditolak. “Selamatkan dulu pasiennya. Masalah biaya nanti saya bayar”, tegas Enita

Awal Perubahan

Sewaktu mengadakan pendekatan ke pimpinan klinik Biawak ambil ingin tahu berapa banyak pasien dari Indonesia yag berobat ke klinik Biawak, trenyuh juga mendengarnya. Ternyata setiap hari lebih banyak pasien Indonesia yang berobat di sana. Selain sering mendapat kata-kata yang kurang sopan dari tenaga medis, juga membayar jasa pengobatan yang lebih mahal.
KUNJUNGAN MENTERI KESEHATAN KE PUSKESMAS SAJINGAN BESAREnita berusaha mengadakan pendekatan terhadap masyarakat dengan mengadakan pengobatan gratis, penyuluhan ke desa-desa untuk memotivasi mereka agar kalau sakit mau memeriksakan diri ke Puskesmas. Jangan menunggu penyakit menjadi fatal baru mau di bawa ke Puskesmas. Dengan menggunakan sarana yang ada, biaya, waktu, dan energi seoptimal mungkin, diharapak memberi manfaat dan mampu memberikan parameter klinis yang jelas dari tatalaksana pasien.
Sedikit demi sedikit, berkurang warga negara Indonesia yang berobat ke klinik tetangga. Hubungan kerjasama dengan klinik Biawak tetap terbina dengan baik. Akhirnya Pimpinan Klinik Biawak mengeluarkan suatu Notis yang intinya :”Setiap warga negara Indonesia yang ingin berobat ke Klinik Biawak harus membawa surat rujukan dari Puskesmas Sajingan Besar”
Disinilah kesempatan Enita merangkul masyarakat sambil memberi pengertian masyarakat agar mereka mau berobat ke Puskesmas. Kalaupun mereka ingin meminta rujukan ke Klinik Biawak, berusaha untuk tidak memberikan rujukan, namun surat rujukan ke Rumah Sakit Kabupaten. Sebab jika tidak membawa rujukan, klinik Biawak tidak akan melayani.
Kondisi ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan kepada masyarakat, pelayanan kesehatan di tanah air lebih baik dengan biaya yang lebih murah dan terjangkau.  Seiring dengan perkembangan pembangunan dan akses jalan, hampir tidak ada warga Indonesia yang berobat ke klinik negara tetangga. Semua itu berkat bantuan teman-teman di Puskesmas agar mereka mencintai NKRI.
Enita dan masyarakat tidak menduga dengan terbukanya akses transportasi kabupaten ke kecamatan Sajingan – Aruk, membawa dampak yang lebih baik terhadap pelayanan kesehatan masyarakat.  Apalagi dengan kunjungan beberapa pejabat penting  dari pusat, propinsi dan kabupaten seperti Menteri Kesehatan dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal beberapa waktu lalu ke Puskesmas Sajingan Besar.
Saat ini, Puskesmas Sajingan Besar yang terletak di perbatasan, bukan lagi merupakan daerah terisolir.
Selamat buat dr. Enita, semoga semakin betah menjalani kebersamaan masyarakat Sajingan Besar.

About these ads

Tentang Puskesmas Sungai Ayak

Pelopor Simpus dari Sekadau - Kalimantan Barat
Tulisan ini dipublikasikan di Umum dan tag , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Dr. Enita Mayasari : Mengabdi Atas Panggilan Hati

  1. Zul yadi berkata:

    Dok’ jika anda berkenan kami minta no telp puskesmas sajingan besar. Tks.

  2. rosalia berkata:

    daerah ku huff

  3. Joko berkata:

    trims atas pengabdiannya.semoga bermanfaat untuk nusa dan bangsa. sukses untuk semuanya…

  4. Black Daniel berkata:

    makasih atas pengabdiaNnya di desa terpencil, GBU.

  5. abenk berkata:

    .salam kenal….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s