PETI


Peti dapat didefinisikan sebagai sebuah benda bersegi empat. Terbuat dari kayu, logam, atau bahan lainnya. Mempunyai tutup dan diberi engsel ataupun tidak, tetapi yang pasti peti selalu mempunyai kunci. Peti identik dengan tempat penyimpan benda-benda berharga semisal perhiasan dan harta benda lainnya, sehingga kita kenal juga yang namanya peti harta karun. Itulah pengertian peti secara umum.

Ada lagi peti dalam arti lain atau lebih tepat disebut sebagai singkatan. PETI di Sungai Ayak, Kecamatan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat lebih dikenal sebagai Penambang Emas Tanpa Ijin, istilah untuk masyarakat yang menambang emas tanpa mengantongi surat ijin dari pejabat berwenang. Kalaupun ada ijin, hanyalah dari pejabat setempat yang kebenarannya diragukan, misal dari Kepala Desa, Camat, atau penguasa lainnya ditingkat Kecamatan. Untuk yang mengantongi ijin seperti ini mungkin dapat diistilahkan dengan PETI yang benar, artinya penambang emas tanpa ijin yang benar alias liar. Alasan mereka melakukan aktifitasnya adalah alasan klasik : demi sesuap nasi, demi menafkahi keluarga, demi menciptakan lapangan kerja, dan banya demi lainnya. Asal tahu saja, yang beralasan demi itu dan ini tadi hidupnya dapat dikategorikan berkecukupan. Cukup makan, cukup pakaian, cukup layak perumahan, punya alat transportasi dan komunikasi mutakhir, punya alat hiburan yang canggih. Pokoknya, mereka tidak dapat disejajarkan dengan gembel dibawah kolong jembatan, yang mencuri dengan alasan yang sama : sesuap nasi. Namun anehnya, biar punya segala sesuatu yang layak untuk orang mampu, jika datang ke Puskesmas, banyak juga yang menggunakan Kartu JAMKESMAS. Tolong dong kasih tahu ibu menteri, programnya telah disalah kaprah.

Begitulah, masalah peti di Sungai Ayak dari tahun ke tahun seperti tidak ada habis-habisnya. Tahun 2000 – 2001 masyarakat bersitegang karena aktifitas peti di Sungai Kapuas – tepat di depan Kantor Koramil Belitang Hilir. Kala itu, ratusan alat penambang yang disebut jeck, beroperasi setiap hari. Menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Bagi penggiat peti, suara mesin yang memekakkan telinga karena rata-rata tanpa knalpot, kabut asap yang menghalangi pandangan, air yang keruh seperti kubangan babi, bukanlah persoalan. Buat mereka, itu semua suara alam yang meninabobokan. Namun bagi masyarakat sekitar yang terbiasa dengan ketenangan, biasa mandi di air yang jernih, biasa menghirup udara segar, kegiatan para peti ini tentu saja sangat mengganggu. Namun para peti tidak peduli, mereka tetap saja melakukan aktifitasnya hingga akhirnya pergi sendiri lantaran emas yang dicari sudah habis. Persoalan dengan masyarakat setempat pun menguap.

Lokasi Peti dilihat dari udara (peta by Google)

Lokasi Peti dilihat dari udara (peta by Google)

Berhentikah para peti dari kegiatannya mengobok-obok tanah air yang mereka perkirakan mengandung emas ? Tentu saja tidak. Bila di satu lokasi kandungan emasnya sudah menipis atau bahkan habis, maka mereka akan mencari lokasi baru. Mata dan telinga mereka begitu awas untuk menangkap informasi dimana lokasi yang sekiranya dapat memberikah hasil yang melimpah.

Sejarah Penambangan

Tidak diketahui dengan persis sejak kapan kegiatan penambangan emas dimulai di wilayah Belitang Hilir, khususnya di desa Sungai Ayak III. Lokasi penambangan tertua terletak di daerah Padung dan Simpi, masing-masing berjarak 2 km dari pusat desa Sungai Ayak III yang sekarang menjadi ibukota Kecamatan Belitang Hilir. Sumber-sumber yang dihubungi menyebutkan bahwa penambangan emas dilakukan ketika Belanda masih berkuasa di Indonesia. Bahkan pada waktu itu, Belanda secara khusus mendatangkan orang-orang dari Jawa untuk dipekerjakan sebagai buruh tambang, dimukimkan di Kampung Padung. Hingga saat ini keturunannya masih menetap di sana. Kampung Padung sekarang terbagi menjadi dua. Satu bagian di sebelah atas – istilah setempat untuk pemukiman yang lebih jauh dari pinggiran sungai – dihuni oleh orang Jawa yang dulu ditransmigrasikan oleh Belanda disebut Padung Atas atau Padung Jawa. Sedangkan bagian di sebelah bawah atau Padung Bawah – Padung Melayu – dihuni oleh penduduk pendatang lokal dari suku Melayu Dayak yang dalam istilah lokal disebut Senganan.

Penambangan yang berlangsung terus menerus dari tahun ke tahun, telah mengikis habis tanah di Padung dan Simpi. Yang tinggal hanyalah padang pasir gersang tanpa bisa ditanami, kolam-kolam bekas penambangan yang tak dapat ditebari benih ikan. Kemanakah mereka – para PETI itu – pergi ?

Sungai Yang Tercemar

Sungai Yang Tercemar

Yang punya cukup modal akan mencari lokasi lain di lain Kecamatan maupun Kabupaten. Ada yang ke Kabupaten Landak, ada juga yang ke Kabupaten Sintang. Yang masih bertahan mencoba mengulang lagi penambangan ditempat yang pernah ditambang dengan hasil seadanya.

Peti di Kampung Baru

Entah siapa yang pertama kali menambang emas di Kampung Baru, suatu pemukiman yang berdekatan dengan Kantor Camat Belitang Hilir, Namun awal Januari 2009 saat diketahui dan beredar isue bahwa lokasi tersebut mengandung emas yang cukup tebal, maka entah dari mana saja datangnya, berbondong-bondonglah para PETI ke sana. Suasana yang tadinya tenang tentram, jadi riuh bergemuruh lantaran deru mesin penambang yang berjumlah lebih dari empat puluh buah. Suara ini bahkan jelas terdengar dari Kantor Camat Belitang Hilir karena jarak yang cukup dekat – kurang dari seratus meter.

Persoalanpun muncul. Warga sekitar menjadi kesulitan memperoleh air bersih karena sungai dan kolam tempat mandi dan mencuci menjadi keruh kecoklatan dicemari limbah peti. Masyarakat pun mengeluh, bahkan ada yang protes. Rapat diadakan untuk mencari solusi. Ketemu. Solusinya adalah membuatkan sumur bagi setiap rumah tangga yang ada di Kampung Baru, terutama yang terkena langsung limbah peti.

Mulailah proyek sumurisasi yang dibiayai oleh para peti dan dikoordinir oleh ketua RT setempat. Sudah belasan rumah tangga yang mendapat jatah sumur. Sumur gali maupun sumur bor. Namun pada minggu kedua bulan Maret 2009, kegiatan pembuatan sumur tersendat, bahkan terhenti sama sekali. Apa pasal ?

Kegiatan para peti telah dihentikan oleh aparat pemerintah setempat. Alasannya, wilayah tersebut berada di luar wilayah penambangan rakyat, terlalu dekat dengan pemukiman penduduk, terlalu dekat dengan fasilitas pemerintah, terlalu dekat dengan fasilitas belajar (sekolah), dan masih banyak terlalu lagi ( kayak 4 T ya ).

Jeck, mesin penambang yang digunakan PETI

Jeck, mesin penambang yang digunakan PETI

Sabtu, 14 Maret 2009, kegiatan penambangan terhenti sama sekali. Mesin-mesin telah dibongkar, diangkat, diangkut ke rumah masing-masing. Selanjutnya mau kemana lagi? Mau diapakan mesin-mesin penambang itu ? Masih dicari lokasi baru, entah dimana.

Tinggallah kini bekas penambangan menyisakan limbah lumpur bagi masyarakat sekitar.

Padang Pasir, peninggal PETI. Mau diapakan kalau sudah begini ?

Padang Pasir, peninggalan PETI. Mau diapakan kalau sudah begini ?

About these ads

Tentang Puskesmas Sungai Ayak

Pelopor Simpus dari Sekadau - Kalimantan Barat
Tulisan ini dipublikasikan di Umum dan tag , , , . Tandai permalink.

25 Balasan ke PETI

  1. Suhanda berkata:

    Kalau di hentikan juga kurang tepat,kalau di teruskan juga tidak tepat . . . .
    yang tepat gimana caranya mengubah PETI mendapatkan izin dari pemerintah pusat.
    semuanya demi lingkungan masyarakat dan tarap hidup perekonomian masyarakat juga.

  2. riko berkata:

    .mungkin hanya 1 yg bsa menhentikan pkerjaan tmbg mas yg ada diwlyah seiayak ini.,,minta ajukan saja sma pemerintah yg ada d’luar sna…membuka lowongan pekrja’n bagi pkrja tmbng mas disini,kemungkinan itoe bsa mnghntkan pkrja tmbg mas d’sini…klau bsa,klau ndg bsa,kmunkinan pkrja tmbg mas mce aja mlakukan aktvtas y..lbih baex m0tong / noreh aja ya…hee…

  3. L.A berkata:

    memang dulu pekerjaan ini bisa disebut PETI, namun sekarang ada juga warga yang intelejennya berpikir “oh, kita mencari nafkah. bukan mencari perkara yang melanggar UU, toh, ga salah juga kita membuat surat yang menjadikan pekerjaan ini tidak dianggap pekerjaan yang haram”.
    kalau orang tua kami tidak menambang dulunya, apakah sekarang kami ini bisa bersekolah dan mencapai cita-cita? yang nantinya setelah sukses sekolah, kami akan sedikit di atas orang tua kami!
    pikirkan itu…

  4. rustam berkata:

    merusak aja bisa,tapi mau maju tidak bisa.
    sebenarnya ada solusi untuk mengatasinya.
    tapi dananya sudah habis dimakan oleh pejabat setempat.
    bagaimana bisa untuk mengatasinya.

  5. heno berkata:

    ELSA@saya rasa pertambangan bukan lah usaha yang berkelanjutan,arti nya usaha ini akan mati sendiri bergantung pada bahan tambang nya..saya yakin 20 tahun ke depan,tidak ada pertambangan emas dalam radius 3 km dari sei ayak.
    HAIRUM@saya setuju dengan anda,jika dari dulu tidak ada pertambangan.saya tidak bisa membayangkan kondisi sei ayak..mgkin semua nya pada buka toko,hahahahah

  6. heno berkata:

    hahaha…sip lah..mngkin besar kecil dampak nya tergantung pada lokasi nya,,jika daerah simpi mgkin lebih kecil dampak nya di bandingkan pomp jet di daerah tepian sungai/di sungai itu sendiri..
    saya berterima kasih,setidak nya ada situs ini yang peduli dengan kondisi sei ayak..
    tetapi saya tetap pada pendirian saya kalau ekonomi sangat lah penting,hahahhah yang patut kita salahkan mngkin adalah pemerintah yang melakukan pembangunan yang tidak merata(saya rasa).
    saya ada ide ,bagaimana jika akun puskesmas bergabung di CASC/perkumpulan sei ayak di facebook..trima kasih..harap postingan nya..

  7. ST berkata:

    sy harap kita bisa berbagi informasi mengenai ini…
    tanks.
    sebenarnya juga kepingin untuk meneliti mengenai hal ini hanya saja butuh pengetahuan, pemahaman yang cukup dan kejelian, o ya saya orang belitang tengah kapan-kapan bisa dong jalan-jalan kesana.

  8. ST berkata:

    yg ingin sy tanyakan?
    sampai saat ini sejauh mana dampak PETI terhadap warga sey ayak yang memanfaatkan air sebagai bahan baku mutu konsumsi/ sperti air minum, mandi dsb,
    Untan pertengahan 2008, hasil penelitian diSekadau menemukan kandungan merkuri (Hg) mencapai 0,2 ppb 2 kali lipat di atas ambang batas normal. dan Penelitian di Kabupaten Sintang menemukan kandungan Hg hingga 0,4 ppb. Pencemaran seperti itu dihulu pasti berdampak ke hilir. apakah sampai sekarang masih di rasakan oleh masyarakat sey ayak?
    trima kasih..

    • Bagi yang menggunakan sungai Kapuas sebagai tempat mandi dan mencuci, mungkin tidak terasa sama sekali dampaknya. Mereka tidak melihat jika air sungai Kapuas sekarang ini lebih keruh dari pada berpuluh tahun lalu. Begitu juga kandungan merkurinya, mereka tahu bahwa merkuri itu berbahaya bagi kesehatan, tetapi akibat yang ditimbulkan tidak pernah mereka lihat secara nyata dalam waktu singkat. Barangkali ini semacam fenomena katak rebus.

      Kesulitan air bersih akan sangat terasa bagi penduduk yang memanfaatkan air dari sungai-sungai kecil. Di sini terlihat jelas air yang keruh seperti kubangan. Sudah pasti air yang seperti ini tidak bisa digunakan untuk mandi dan mencuci. Apalagi untuk diminum. Selain itu, sungai menjadi semakin dangkal karena endapan pasir dan lumpur.

      Untuk saat ini, banyak penduduk mulai mencoba membuat sumur bor. Ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Ujung-ujungnya, yah…. air sungai yang keruh itulah yang disedot. Ditampung dulu dalam drum, dijernihkan dengan tawas. Setelah jernih, barulah digunakan untuk mandi dan mencuci. Sedangkan untuk air minum, menggunakan air hujan atau membeli air galon.

      Kami dengar, tahun ini UNTAN akan mengadakan penelitian mengenai mutu air sungai Kapuas, apakah masih layak atau tidak untuk air PDAM. Apa pun hasilnya nanti, semoga dapat dipublikasikan sehingga masyarakat luas mengetahuinya.

  9. hairum berkata:

    tidak boleh menyalahkan pekerja atau bos dari PETI, pemerintah yang salah, yg tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka????hairum@pejoeang ’09

  10. elsa berkata:

    Nasib Sungai Ayak 20 tahun akan datang ??? Sebentar saya terawang……
    akan seperti gurun pasir….

  11. anton triadi berkata:

    Gimana nasip Sungai Ayak 20 tahun akan datang kalau Peti tidak di hentikan…………….?

  12. Herry berkata:

    Bener-bener tuh, susah dapet air bersih ne. Tapi ga apa2lah. yang penting bos parit bisa bagi2 duit. Hahaha, gurau….gurau…

  13. Puskesmas Sungai Ayak berkata:

    Kalau ada mas di baroh rumah, sungkur jak. Kita kan tau pindah. Apai payah ….hehehe. Yang penting kompensasinya sesuai. Bonar jom ?

  14. someone from kampung baru..... berkata:

    auk kati ngatuh antek dah nyak am mata pencarek sidak….yg penting nang nyungkur baroh rumah kita ju….

  15. Buat Bung Heno !
    Saya pikir, nenek moyang dan para pejuang mewariskan negeri ini kepada kita adalah untuk dijaga kelestariannya, dijaga air sungainya agar tetap jernih. Nah … siapa sebenarnya yang harus malu ? Yang membuat lingkungan rusak, sungai dangkal dan keruh, ataukah mereka yang mencoba mengingatkan agar menjaga kelestarian lingkungan ?
    Jadi Sukarnoa ke 2 ? Nggak lah ya ! Siapa yang mau seperti Sukarno. Sudah susah-susah berjuang, jadi presiden, turun tahta dan meninggalkan istana cuma pake piyama dan sandal jepit. Mau ?

  16. heno berkata:

    Ayo kita pikirkan andai kata anda di posisi kami…anda pasti juga ingin mencari rezeki bukan..tidak usah munafik,kita semua ingin berhasil,jika memang itu jalan yang bagus,kenapa ga di coba?apa kita harus tunggu pengusaha asing yang menyedot SDA kita?seperti FREEPORT?harusnya kita malu dengan nenek moyang kita yang gugur memperjuangkan revolusi untuk kita, apakah kakek anda ada ikut?tidakkan, mereka berjuang tanpa pamrih untuk kita bersama..anda harus berfikir juga, karyawan yang bekerja di pertambangan itu tidak sedikit,andai kata pertambangan berhenti,anda mau menyumbang nasi? Pikir itu,mengorbankan saudara atau mendahulukan kepentingan pribadi? Anda jangan melebih-lebihkan,bicara yang real donk,di sini suara mesin paling 3 dp, udara masih bersih dan untuk pencemaran air,peti menggunakan sistem tampung limbah,jadi emang asalnya air’nya keruh..saya tidak setuju dengan pendapat anda bukan karna saya dari keluarga penambang, saya hanya malu punya saudara seperti anda,marilah kita evaluasi diri,daripada kita bertengkar pendapat lebih baik kita berfikir untuk membangun desa ini.. Jadilah soekarno yang ke 2…peace is love

  17. Buat Om Jojok
    Itulah problema kita semua. Sampai saat ini, pemerintah juga belum punya solusi yang berpihak pada semua …

  18. Buat Om NN
    Soal jarak silakan ukur sendiri.
    Kami hanya memfokuskan pada dampak akibat penambangan. Kasian dong warga yang memanfaatkan sungai Sepantak sebagai sumber airnya. Mandi dan mencuci di air yang keruh. Soal tradisi, tolong jangan dijadikan alasan untuk merusak lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar. Terima kasih.

  19. NN berkata:

    Suara ini bahkan jelas terdengar dari Kantor Camat Belitang Hilir karena jarak yang cukup dekat –” kurang dari seratus meter”.
    Yang ingin saya tanyakan apakah bapak/ibu tau ukuran seratus meter?
    Janganlah membuat opini yang bersifat terlalu provokatif,wilayah sei ayak memang dari dulu sejarahnya itu dari nenek moyang yang kerjanya tambang emas,apakah mereka yang notabenenya disebut petambang emas itu peti semua?dan gimana mereka yang telah mendapat Surat Ijin Pertambangan Rakyat ( SIPR ) itu masih bisa disebut “liar” jadi fungsi suratnya itu apa?
    Terima kasih

  20. Jojok berkata:

    rakyat kita memang benar2 gak mau bersahabat dengan alam…di atas wilayah saya juga ada penambangan pasir pak, beberapa tahun ini ratusan mata air telah mati. dan mereka tetap menambang, tanpa hati nurani…

  21. Kalau tidak salah, bulan Nopember 2008 sudah ada penelitian dampak mercury oleh UNTAN, Pontianak. Tapi hasilnya belum tahu nih …..

  22. Semoga limbah mercuri tidak mencemari sungai ayak..

  23. Silakan. Kami tunggu……….

  24. KanjengRagil berkata:

    Melihat photo di postingan ini menarik sekali, kapan ya saya bisa jalan-jalan kesana ?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s